Kamis, 21 Mei 2009

Cerita Miss Piggy

Cerita ini sering kita dengar dan membacanya, mungkin juga sering masuk di inbox email kita, tapi gak ada salahnya kalo saya tulis ulang mungkin ada yang bisa kita petik pelajaran dari cerita ini…

Adalah seekor babi -kita sebut saja Miss Piggy- yang serba bisa di sebuah peternakan
Setiap pagi babi itu mengikuti ayam jantan berkokok untuk membangunkan majikannya.

Dia belajar seperti kucing untuk menangkap tikus yang suka merusak.


Binatang-binatang yang lain bertanya sama Miss Piggy, ”kenapa anda begitu bersemangat ikut campur dalam banyak hal?” dan jawab Miss Piggy ” Kalian ini binatang-binatang bodoh, kalo ga banyak kemampuan gimana bisa tetap bertahan di masyarakat di zaman sekarang ini?"


Pada suatu hari, si majikan datang dan Miss Piggy tersebut ditangkapnya dan mau dipersiapkan untuk disembelih, tetapi Miss Piggy tidak percaya kalo dirinya akan disembelih dan bertanya pada sang majikan ”Aku begitu banyak kemampuan, dan sudah banyak membantumu dalam banyak hal, kenapa Engkau mau menyembelihku? "

Apa jawab sang majikan? Dengan enteng menjawab "Tidak ada alasan khusus, aku cuma pengen makan steak babi"


Moral cerita:
Majikan hanya melihat dari apa yang seharusnya anda lakukan, bukan dari apa yang bisa Anda lakukan.

Kalau majikan kita lagi mau "sembelih" orang, kapan saja bisa dan siapa saja bisa jadi "korban". Jadi cukup lakukan apa saja yang seharusnya Anda lakukan, karena semua itu bisa jadi nggak dihargai majikan kita

Bagaimana sikap kita bila menjadi miss piggy?
Bagaimana sikap kita bila jadi majikan?

Salam,

Senin, 30 Maret 2009

Terbentuknya Paradigma

Diantara kita tentunya sudah sering membaca dan mendengar tentang hal bagaimana terbentuknya sebuah kebiasaan yang berlangsung terus menerus yang akhirnya membuat kita tidak mempunyai jalan lain, namun tidak ada salahnya jika kita mengulang membaca kembali bagaimana paradigma dalam arti agak sedikit negative terbentuk, yo kita mengulang kembali,

Sekelompok peniliti menempatkan 5 ekor kera dalam satu kandang dan ditengahnya diletakan sebuah tangga dengan satu sisir pisang diatasnya, pada saat seekor kera akan memanjat tangga untuk mengambil pisang tersebut sang peneliti menyiram kera tersebut dengan menyemprotkan air dingin juga kepada kera-kera yang tidak memanjat.

Selanjutnya setiap ada kera yang hendak memanjat tangga untuk mengambil pisang, kera kera yang lain menariknya untuk menjauhi tangga, begitu seterusnya berulang-ulang.

Dan apa yang terjadi? Tidak ada seekor kerapun yang berani memanjat tangga tersebut.

Melihat kera kera tidak ada yang berani memanjat tangga sang peneliti akhirnya memasukkan seekor kera baru kedalam kandang, dan hal pertama yang dilakukan kera baru tersebut adalah memanjat tangga untuk mengambil pisang......yang langsung dicegah oleh kera kera lainnya...

Setelah berulang kali berusaha memanjat tangga dan berulang kali pula dicegah, akhirnya kera baru inipun jera untuk memanjat, meski tidak tau apa alasannya.

Sang peneliti akhirmya memasukkan kera baru kedua dan hal pertama yang dilakukan kera baru kedua adalah memanjat tangga untuk mengambil pisang dan kejadian terulang kembali, kera kera lama mencegah dan kera baru yang pertama juga ikut serta mencegah kera baru kedua memanjat...

Kera baru ketiga segera masuk, kejadian terulang lagi hingga kera baru keempat dan kelima masuk kandangpun kejadian mencegah naik tangga tetap berulang

Sekarang dalam kandang ada 5 ekor kera baru yang tidak pernah kena siram dan semprotan air dingin namun tetap melanjutkan untuk mencegah kera lainnya untuk memanjat tangga.

Jika memungkinkan kita bertanya kepada kera kera tersebut mengapa mereka saling cegah siapapun yang hendak memanjat tangga.... dan jawabanya adalah ”saya juga tidak tau, dari dulu aturannya sudah seperti itu disini....

Bukankah ini juga terjadi pada diri kita dan mungkin kandang (baca kantor atau lingkungan) kita?.....jangan buang kesempatan untuk terus menerus belajar dan berbagi dengan rekan sekerja, rekan blogger, dengan menanyakan mengapa kita harus lanjut melakukan sesuatu yang ’kurang’ jelas jika ternyata kemudian banya jalan menuju roma......



Selasa, 24 Maret 2009

Pengaruh Rutinitas (3)

Rutinitas yang kita kerjakan haruslah rutinitas untuk mencapai hasil yang tidak rutin

Kita harus menstrategikan rutinitas kerja kita sebagai cara untuk menemukan terobosan baru yang mengangkat rutinitas kita lebih berkwalitas yang juga harus segera kita tinggalkan.

Rutinitas yang harus kita lakukan adalah rutinitas yang membangun disiplin untuk selalu menemukan hal-hal baru yang dapat kita lakukan dengan cara-cara yang baru yang telah kita kenal yang lebih efisien dan memaksimalkan kepuasan prestasi.

Pengarus Rutinitas (2)

Rutinitas yang tidak kita jadikan strategi akan berkembang menjadi kebiasaan yang mengecilkan kita

Mungkin karena kesibukan yang kita lakukan untuk memenuhi jadwal yang kita susun sebelumnya, tidak sedikit dari kita yang akhirnya bekerja dalam rutinitas yang akhirnya menolak adanya perubahan.

Seperti kalau kita perhatikan bahwa apapun yang bukan hak seseorang tetapi kalau kita biarkan diterimanya secara rutin, seolah-oleh nantinya akan menjadi hak pribadinya.

Bisa kita bayangkan apa yang akan menjadi beban kita bila keselarasan sikap yang terbangun selama ini adalah perasaan berhak untuk menikmati karir yang tidak mengharuskan pencapaian hasil yang spektakuler, tetapi yang tetap menuntut kesejahteraan yang tidak ada hubungannya dengan kualitas hasil pekerjaan kita?

Pengaruh Rutinitas (1)

Bila kita terbiasa dengan rutinitas, kita akan melihat segala sesuatu sebagai keharusan

Kita sulit membangun semangat diri kita sendiri bila sudah terbiasa dengan rutinitas, karena kita melihat apapun yang baru sebagai tambahan beban diatas beban rutin yang sekarang sedang kita pikul. Karena segala sesuatu menjadi keharusan, maka kita akan menghindari pekerjaan dan bila harus bekerja maka kita akan bekerja sesedikit mungkin, karena semuanya rutin maka kita tidak melihat adanya keuntungan ekstra yang membuat kita lebih berkualitas.

Kita akan melihat inisiatif yang dilakukan orang lain dengan pertanyaan yang rutin juga ”keuntungan untuk saya apa?”

PENGARUH RUTINITAS

Berhati-hatilah dengan pekerjaan-pekerjaan yang rutin dalam organisasi kita

Seperti kita sebagai pribadi, suatu organisasi tidak mungkin mencapai hasil yang luar biasa melalui pekerjaan-pekerjaan rutin, maka pastikanlah bahwa organisasi kita tidak mengerjakan pekerjaan sebagai rutinitas.

Sebuah pekerjaan yang awalnya sangat menantang dan menggairahkanpun akan menjadi rutinitas yang melemahkan, bila kita tidak membangun variasi-variasi baru dari apa yang harus kita kerjakan, cara-cara mengerjakannya, dan alasan-alasan untuk mengerjakannya harus dengan kesungguhan yang besar.