Senin, 31 Agustus 2015

PILKADA



Pemilukada, Pemilukadal, Pilkadal, Pil kadal, Kadal


Membaca berita pemilihan umum kepala daerah Surabaya yang sedianya akan dilaksanakan bulan Desember 2015 kemungkinan diundur hingga  tahun 2017, pengunduran waktu menjadi 2017 disebabkan karena hingga batas waktu yang ditentukan KPUD hanya diikuti satu pasangan kandidat calon walikota.

Pengunduran waktu pemilu disebabkan oleh tidak siapnya partai pemilu untuk menyiapkan kandidat calon termasuk alas an-alasan konyol seperti scan surat rekomendasi parpol berbeda, surat rekomendasi  yang asli hilang, atau tidak melampirkan rekomendasi tidak mempunyai tunggakan pajak yang notabene syarat-syarat tersebut juga disetujui oleh parpol.

Partai politik dan poliTikus tentunya paham betul bahwa tujuan mereka adalah memenangkan pemilihan umum baik daerah maupun pusat, memenangkan pemilihan presiden, gubernur, bupati atau walikota. Bila pada jadwal waktu pemilu yang telah disepakati bersama dan partai politik tidak mengajukan calon sebagai peserta karena tidak siap atau calon yang diajukan bisa dipastikan kalah menghadapi calon dari partai lain atau bisa jadi karena akal-akalan partai politik untuk mengulur waktu atau menggagalkan pemilu.

Partai politik yang tidak mengajukan calon seharusnya diberikan sanksi hukum yang tegas seperti tidak boleh mengikuti pemilihan umum legislatif atau pemilihan umum kepala daerah atau sanksi oleh masyarakat untuk tidak dipilih saat penyelenggaraan pemilu.

Tujuan partai politik dan seseorang menjadi poliTikus bisa dibaca pada banyak buku referensi atau manual partai yang bersangkutan, bila yang terjadi mundurnya jadwal waktu pemilihan umum kepala daerah karena ketidak siapan partai politik bolehlah sebagai masyarakat yang hak-hak politiknya dilanggar dan dikakahi poliTikus poliTikus busuk menyebut partai politik yang bersangkutan hanya sekumpulan gerombolan poliTikus dan kadal yang berakrobat menjungkirbalikan hak politik rakyat dan menyandera hak demokrasi rakyat.

Belajar dari pemilu Surabaya, rakyat mengetahui parpol apa yang mengajukan calon walikota dan parpol apa yang tidak mengajukan calon, masyarakat yang mempunyai hak untuk menilai kenapa pemilu ditunda? Karena tikus atau kadal.

Wallahu a’lam

Jakarta, 31 Agustus 2015
Salam,
bud

Pembangunan Untuk Siapa? Hiruk Pekok Pembangunan.



Niat pemerintah untuk melakukan pengairan di Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barataman dilakukan Senin (31/8) esok. Tapi, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat Dadan Ramdan mengatakan, masih ada ribuan warga yang bertahan dan belum mau pindah. (Sumber: CNN Indonesia)

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melanjutkan programnya untuk meratakan sejumlah bangunan yang terletak di pinggir kali Ciliwung,  Kampung Pulo, Jakarta Timur, Sabtu (22/8). Warga Kampung Pulo turut menyaksikan penghancuran rumah di bantaran kali Ciliwung. (Republika 22 Agustus 2014)

Revitalisasi Sungai Cikapundung yang akan dijadikan ruang publik harus menggusur warga yang tinggal di bantaran sungai. Sejak 2013 lalu, proyek ini tak kunjung rampung, selain pengerjaanya ditunda, juga Pemkot Bandung belum berhasil melobi warga.(Detik 31 Agustus 2015)  

Untuk alasan pembangunan kerap dibarengi dengan hiruk pikuk menggusur bangunan rumah warga atau memindahkan warga secara secara paksa dengan mendapat ganti rugi atau tanpa ganti rugi, di dalamnya termasuk pembangunan jalan raya, jalan tol, jembatan dan ruang terbuka hijau. Kadang ada pemikiran pembangunan ini sebenarnya untuk siapa? Siapa yang menikmati pembangunan? Siapa yang berkorban untuk pembangunan? Siapa diuntungkan? Siapa dirugikan? Akibat pembangunan selalu ada.

Diresmikannya jalan tol Purbaleunyi yang menghubungkan dan memperlancar serta memperpendek jarak antara Jakarta-Bandung juga lumayan banyak menggusur area dan moda transportasi masyarakat, dampak yang bisa diketahui dengan diresmikannya tol Purbaleunyi diantaranya adalah arus penumpang pengguna Kereta Api menyusut drastis hingga KAI menjadwal ulang pemberangkatan rangkaian KA dan menghapus KA Parahiyangan yang legendaris. Pada jalur jalan jalan Kerawang - Purwakarta - Bandung pedagang oleh-oleh dan restoran merasakan dampaknya dengan berkurangnya pembeli, sedangkan dilain pihak berkembang moda transportasi penumpang shuttle yang awalnya dilayani travel 4848 dengan Torana-nya yang joknya empuk mentul-mentul .   

Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura dinilai dapat meningkatkan pembangunan di wilayah pulau Madura dan meningkatkan mobilisasi warga, namun disisi lain jembatan Suramadu membuat pelabuhan penyeberangan di Tanjung Perak Surabaya dan di Kamal Madura menjadi sepi karena penumpang ferry beralih melalui jembatan Suramadu dan merugikan pedagang kecil yang berjualan di area tersebut.

Begitupun dengan beroperasinya jalan tol Cipali yang menghubungkan Cikopo dan Palimanan sehingga arus lalu lintas dari Sumatera melalui pelabuhan Merak bisa melalui told an tol hingga Palimanan yang kelak juga akan tersambung hingga Surabaya.

Pembangunan selalu menimbulkan akibat yang menguntungkan, bermanfaat atau tidak menguntungkan atau bahkan tidak bermanfaat  dari sisi mana melihatnya, dan beruntungnya di Indonesia segalanya boleh dikritisi, dicereweti dan diumpat, apalagi bila yang melakukan adalah bukan kelompoknya atau lawan politik.

Sudut pandang, cara pandang dan waktu pandang.  

Jakarta, 31 Agustus 2015
Salam,
bud

Rabu, 26 Agustus 2015

Rupiah dan Mengamati Pengamat




Bursa kompak memerah anjlok hingga lebih dari 8 persen, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan anjlok hingga lebih dari 4 persen, menyusul kaburnya investor asing dari lantai bursa. Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh hingga ke level Rp 14.000,-- Harga minyak tergelincir di bawah 40 dolar AS per barrel untuk kali pertama dalam 6 tahun terakhir.

Harga saham anjlok? Yo silahkan anjlok, toh kinerja perusahaan dengan saham yang dijual di bursa tidak ada korelasi langsung? bukannya perusahaan jual saham sebagai pengganti utang karena berbiaya murah?.

Politikus dan pengamat ekonomi menyatakan kepanikannya dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika yang seolah-olah Indonesia akan runtuh bila rupiah terus melemah.

Indikator dan parameter serta istilah yang digunakan politikus dan pengamat juga lebih membingungkan untuk saya mengerti karena bertolak belakang antara pernyataan politikus dan pengamat dengan keadaan yang bisa dilihat hari-hari belakangan, konon daya beli masyarakat menurun tapi kenyataannya dalam waktu yang hampir bersamaan dalam ajang GIAAS-Gaikindo Indonesia International Auto Show dan IIMS-Indonesia International Motor Show pengunjung dan pembeli berjubal, meski diberlakukan tiket untuk melihat kedua ajang pameran kendaraan mewah tersebut. Motor dengan harga lebih 600juta dan mobil berharga bermilyar rupiah pembelinya harus rela indent.

Warung kopi merk asing, tempat makan di Mall Gandaria City Jakarta tetap berjubal ngantri ‘marugame udon’, juga warung kelas kakilima di daerah Barata Jaya, Surabaya masih ngantri untuk seporsi nasi sambal pedas belut di Belut Khas Surabaya, yang sepertinya tidak terpengaruh dengan melambungnya harga cabe.

Sebagai masyarakat, saya masih tenang dan tidak panik dengan melemahnya rupiah karena setiap hari sudah terbiasa dengan salah satu indikator yang melemahkan rupiah, saya penikmat barang impor, yang saya konsumsi adalah tahu, tempe, garam, mi instan dan cabe yang bahan bakunya kedele dan terigu alias gandum dibeli importir dengan dolar.

Menurut ngana?


Jakarta, 26 Agustus 2015 


([Rupiah dan Mengamati Pengamat ]fb Om Budi 25 Agustus 2015)

Kamis, 21 Mei 2009

Cerita Miss Piggy

Cerita ini sering kita dengar dan membacanya, mungkin juga sering masuk di inbox email kita, tapi gak ada salahnya kalo saya tulis ulang mungkin ada yang bisa kita petik pelajaran dari cerita ini…

Adalah seekor babi -kita sebut saja Miss Piggy- yang serba bisa di sebuah peternakan
Setiap pagi babi itu mengikuti ayam jantan berkokok untuk membangunkan majikannya.

Dia belajar seperti kucing untuk menangkap tikus yang suka merusak.


Binatang-binatang yang lain bertanya sama Miss Piggy, ”kenapa anda begitu bersemangat ikut campur dalam banyak hal?” dan jawab Miss Piggy ” Kalian ini binatang-binatang bodoh, kalo ga banyak kemampuan gimana bisa tetap bertahan di masyarakat di zaman sekarang ini?"


Pada suatu hari, si majikan datang dan Miss Piggy tersebut ditangkapnya dan mau dipersiapkan untuk disembelih, tetapi Miss Piggy tidak percaya kalo dirinya akan disembelih dan bertanya pada sang majikan ”Aku begitu banyak kemampuan, dan sudah banyak membantumu dalam banyak hal, kenapa Engkau mau menyembelihku? "

Apa jawab sang majikan? Dengan enteng menjawab "Tidak ada alasan khusus, aku cuma pengen makan steak babi"


Moral cerita:
Majikan hanya melihat dari apa yang seharusnya anda lakukan, bukan dari apa yang bisa Anda lakukan.

Kalau majikan kita lagi mau "sembelih" orang, kapan saja bisa dan siapa saja bisa jadi "korban". Jadi cukup lakukan apa saja yang seharusnya Anda lakukan, karena semua itu bisa jadi nggak dihargai majikan kita

Bagaimana sikap kita bila menjadi miss piggy?
Bagaimana sikap kita bila jadi majikan?

Salam,

Senin, 30 Maret 2009

Terbentuknya Paradigma

Diantara kita tentunya sudah sering membaca dan mendengar tentang hal bagaimana terbentuknya sebuah kebiasaan yang berlangsung terus menerus yang akhirnya membuat kita tidak mempunyai jalan lain, namun tidak ada salahnya jika kita mengulang membaca kembali bagaimana paradigma dalam arti agak sedikit negative terbentuk, yo kita mengulang kembali,

Sekelompok peniliti menempatkan 5 ekor kera dalam satu kandang dan ditengahnya diletakan sebuah tangga dengan satu sisir pisang diatasnya, pada saat seekor kera akan memanjat tangga untuk mengambil pisang tersebut sang peneliti menyiram kera tersebut dengan menyemprotkan air dingin juga kepada kera-kera yang tidak memanjat.

Selanjutnya setiap ada kera yang hendak memanjat tangga untuk mengambil pisang, kera kera yang lain menariknya untuk menjauhi tangga, begitu seterusnya berulang-ulang.

Dan apa yang terjadi? Tidak ada seekor kerapun yang berani memanjat tangga tersebut.

Melihat kera kera tidak ada yang berani memanjat tangga sang peneliti akhirnya memasukkan seekor kera baru kedalam kandang, dan hal pertama yang dilakukan kera baru tersebut adalah memanjat tangga untuk mengambil pisang......yang langsung dicegah oleh kera kera lainnya...

Setelah berulang kali berusaha memanjat tangga dan berulang kali pula dicegah, akhirnya kera baru inipun jera untuk memanjat, meski tidak tau apa alasannya.

Sang peneliti akhirmya memasukkan kera baru kedua dan hal pertama yang dilakukan kera baru kedua adalah memanjat tangga untuk mengambil pisang dan kejadian terulang kembali, kera kera lama mencegah dan kera baru yang pertama juga ikut serta mencegah kera baru kedua memanjat...

Kera baru ketiga segera masuk, kejadian terulang lagi hingga kera baru keempat dan kelima masuk kandangpun kejadian mencegah naik tangga tetap berulang

Sekarang dalam kandang ada 5 ekor kera baru yang tidak pernah kena siram dan semprotan air dingin namun tetap melanjutkan untuk mencegah kera lainnya untuk memanjat tangga.

Jika memungkinkan kita bertanya kepada kera kera tersebut mengapa mereka saling cegah siapapun yang hendak memanjat tangga.... dan jawabanya adalah ”saya juga tidak tau, dari dulu aturannya sudah seperti itu disini....

Bukankah ini juga terjadi pada diri kita dan mungkin kandang (baca kantor atau lingkungan) kita?.....jangan buang kesempatan untuk terus menerus belajar dan berbagi dengan rekan sekerja, rekan blogger, dengan menanyakan mengapa kita harus lanjut melakukan sesuatu yang ’kurang’ jelas jika ternyata kemudian banya jalan menuju roma......



Selasa, 24 Maret 2009

Pengaruh Rutinitas (3)

Rutinitas yang kita kerjakan haruslah rutinitas untuk mencapai hasil yang tidak rutin

Kita harus menstrategikan rutinitas kerja kita sebagai cara untuk menemukan terobosan baru yang mengangkat rutinitas kita lebih berkwalitas yang juga harus segera kita tinggalkan.

Rutinitas yang harus kita lakukan adalah rutinitas yang membangun disiplin untuk selalu menemukan hal-hal baru yang dapat kita lakukan dengan cara-cara yang baru yang telah kita kenal yang lebih efisien dan memaksimalkan kepuasan prestasi.

Pengarus Rutinitas (2)

Rutinitas yang tidak kita jadikan strategi akan berkembang menjadi kebiasaan yang mengecilkan kita

Mungkin karena kesibukan yang kita lakukan untuk memenuhi jadwal yang kita susun sebelumnya, tidak sedikit dari kita yang akhirnya bekerja dalam rutinitas yang akhirnya menolak adanya perubahan.

Seperti kalau kita perhatikan bahwa apapun yang bukan hak seseorang tetapi kalau kita biarkan diterimanya secara rutin, seolah-oleh nantinya akan menjadi hak pribadinya.

Bisa kita bayangkan apa yang akan menjadi beban kita bila keselarasan sikap yang terbangun selama ini adalah perasaan berhak untuk menikmati karir yang tidak mengharuskan pencapaian hasil yang spektakuler, tetapi yang tetap menuntut kesejahteraan yang tidak ada hubungannya dengan kualitas hasil pekerjaan kita?