Senin, 31 Agustus 2015

Pembangunan Untuk Siapa? Hiruk Pekok Pembangunan.



Niat pemerintah untuk melakukan pengairan di Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barataman dilakukan Senin (31/8) esok. Tapi, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat Dadan Ramdan mengatakan, masih ada ribuan warga yang bertahan dan belum mau pindah. (Sumber: CNN Indonesia)

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melanjutkan programnya untuk meratakan sejumlah bangunan yang terletak di pinggir kali Ciliwung,  Kampung Pulo, Jakarta Timur, Sabtu (22/8). Warga Kampung Pulo turut menyaksikan penghancuran rumah di bantaran kali Ciliwung. (Republika 22 Agustus 2014)

Revitalisasi Sungai Cikapundung yang akan dijadikan ruang publik harus menggusur warga yang tinggal di bantaran sungai. Sejak 2013 lalu, proyek ini tak kunjung rampung, selain pengerjaanya ditunda, juga Pemkot Bandung belum berhasil melobi warga.(Detik 31 Agustus 2015)  

Untuk alasan pembangunan kerap dibarengi dengan hiruk pikuk menggusur bangunan rumah warga atau memindahkan warga secara secara paksa dengan mendapat ganti rugi atau tanpa ganti rugi, di dalamnya termasuk pembangunan jalan raya, jalan tol, jembatan dan ruang terbuka hijau. Kadang ada pemikiran pembangunan ini sebenarnya untuk siapa? Siapa yang menikmati pembangunan? Siapa yang berkorban untuk pembangunan? Siapa diuntungkan? Siapa dirugikan? Akibat pembangunan selalu ada.

Diresmikannya jalan tol Purbaleunyi yang menghubungkan dan memperlancar serta memperpendek jarak antara Jakarta-Bandung juga lumayan banyak menggusur area dan moda transportasi masyarakat, dampak yang bisa diketahui dengan diresmikannya tol Purbaleunyi diantaranya adalah arus penumpang pengguna Kereta Api menyusut drastis hingga KAI menjadwal ulang pemberangkatan rangkaian KA dan menghapus KA Parahiyangan yang legendaris. Pada jalur jalan jalan Kerawang - Purwakarta - Bandung pedagang oleh-oleh dan restoran merasakan dampaknya dengan berkurangnya pembeli, sedangkan dilain pihak berkembang moda transportasi penumpang shuttle yang awalnya dilayani travel 4848 dengan Torana-nya yang joknya empuk mentul-mentul .   

Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura dinilai dapat meningkatkan pembangunan di wilayah pulau Madura dan meningkatkan mobilisasi warga, namun disisi lain jembatan Suramadu membuat pelabuhan penyeberangan di Tanjung Perak Surabaya dan di Kamal Madura menjadi sepi karena penumpang ferry beralih melalui jembatan Suramadu dan merugikan pedagang kecil yang berjualan di area tersebut.

Begitupun dengan beroperasinya jalan tol Cipali yang menghubungkan Cikopo dan Palimanan sehingga arus lalu lintas dari Sumatera melalui pelabuhan Merak bisa melalui told an tol hingga Palimanan yang kelak juga akan tersambung hingga Surabaya.

Pembangunan selalu menimbulkan akibat yang menguntungkan, bermanfaat atau tidak menguntungkan atau bahkan tidak bermanfaat  dari sisi mana melihatnya, dan beruntungnya di Indonesia segalanya boleh dikritisi, dicereweti dan diumpat, apalagi bila yang melakukan adalah bukan kelompoknya atau lawan politik.

Sudut pandang, cara pandang dan waktu pandang.  

Jakarta, 31 Agustus 2015
Salam,
bud

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan menuliskan komentar disini