Bursa kompak memerah anjlok hingga
lebih dari 8 persen, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan anjlok hingga
lebih dari 4 persen, menyusul kaburnya investor asing dari lantai bursa. Adapun
nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh hingga ke level Rp 14.000,--
Harga minyak tergelincir di bawah 40 dolar AS per barrel untuk kali pertama
dalam 6 tahun terakhir.
Harga saham anjlok? Yo silahkan anjlok, toh kinerja
perusahaan dengan saham yang dijual di bursa tidak ada korelasi langsung? bukannya
perusahaan jual saham sebagai pengganti utang karena berbiaya murah?.
Politikus dan pengamat ekonomi menyatakan kepanikannya
dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika yang seolah-olah
Indonesia akan runtuh bila rupiah terus melemah.
Indikator dan parameter serta istilah yang digunakan
politikus dan pengamat juga lebih membingungkan untuk saya mengerti karena
bertolak belakang antara pernyataan politikus dan pengamat dengan keadaan yang
bisa dilihat hari-hari belakangan, konon daya beli masyarakat menurun tapi
kenyataannya dalam waktu yang hampir bersamaan dalam ajang GIAAS-Gaikindo
Indonesia International Auto Show dan IIMS-Indonesia International Motor Show
pengunjung dan pembeli berjubal, meski diberlakukan tiket untuk melihat kedua
ajang pameran kendaraan mewah tersebut. Motor dengan harga lebih 600juta dan
mobil berharga bermilyar rupiah pembelinya harus rela indent.
Warung kopi merk asing, tempat makan di Mall Gandaria City
Jakarta tetap berjubal ngantri ‘marugame udon’, juga warung kelas kakilima di
daerah Barata Jaya, Surabaya masih ngantri untuk seporsi nasi sambal pedas
belut di Belut Khas Surabaya, yang sepertinya tidak terpengaruh dengan
melambungnya harga cabe.
Sebagai masyarakat, saya masih tenang dan tidak panik dengan
melemahnya rupiah karena setiap hari sudah terbiasa dengan salah satu indikator
yang melemahkan rupiah, saya penikmat barang impor, yang saya konsumsi adalah
tahu, tempe, garam, mi instan dan cabe yang bahan bakunya kedele dan terigu alias gandum dibeli importir dengan dolar.
Menurut ngana?
Jakarta, 26 Agustus 2015
([Rupiah dan Mengamati Pengamat ]fb Om Budi 25 Agustus 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan menuliskan komentar disini