Rabu, 26 Agustus 2015

Rupiah dan Mengamati Pengamat




Bursa kompak memerah anjlok hingga lebih dari 8 persen, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan anjlok hingga lebih dari 4 persen, menyusul kaburnya investor asing dari lantai bursa. Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh hingga ke level Rp 14.000,-- Harga minyak tergelincir di bawah 40 dolar AS per barrel untuk kali pertama dalam 6 tahun terakhir.

Harga saham anjlok? Yo silahkan anjlok, toh kinerja perusahaan dengan saham yang dijual di bursa tidak ada korelasi langsung? bukannya perusahaan jual saham sebagai pengganti utang karena berbiaya murah?.

Politikus dan pengamat ekonomi menyatakan kepanikannya dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika yang seolah-olah Indonesia akan runtuh bila rupiah terus melemah.

Indikator dan parameter serta istilah yang digunakan politikus dan pengamat juga lebih membingungkan untuk saya mengerti karena bertolak belakang antara pernyataan politikus dan pengamat dengan keadaan yang bisa dilihat hari-hari belakangan, konon daya beli masyarakat menurun tapi kenyataannya dalam waktu yang hampir bersamaan dalam ajang GIAAS-Gaikindo Indonesia International Auto Show dan IIMS-Indonesia International Motor Show pengunjung dan pembeli berjubal, meski diberlakukan tiket untuk melihat kedua ajang pameran kendaraan mewah tersebut. Motor dengan harga lebih 600juta dan mobil berharga bermilyar rupiah pembelinya harus rela indent.

Warung kopi merk asing, tempat makan di Mall Gandaria City Jakarta tetap berjubal ngantri ‘marugame udon’, juga warung kelas kakilima di daerah Barata Jaya, Surabaya masih ngantri untuk seporsi nasi sambal pedas belut di Belut Khas Surabaya, yang sepertinya tidak terpengaruh dengan melambungnya harga cabe.

Sebagai masyarakat, saya masih tenang dan tidak panik dengan melemahnya rupiah karena setiap hari sudah terbiasa dengan salah satu indikator yang melemahkan rupiah, saya penikmat barang impor, yang saya konsumsi adalah tahu, tempe, garam, mi instan dan cabe yang bahan bakunya kedele dan terigu alias gandum dibeli importir dengan dolar.

Menurut ngana?


Jakarta, 26 Agustus 2015 


([Rupiah dan Mengamati Pengamat ]fb Om Budi 25 Agustus 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan menuliskan komentar disini